-

TOLONG DI KASIH JEJAK YA SEBELUM PERGI, MAKASIH

Kamis, 11 Oktober 2012

pujangga tanpa cinta sobat

#Aku ingin memiliki seluruh kebahagiaan, untuk kuberikan padamu. Betapa kesedihanmu selalu mencemaskanku.

#Di matamu, aku tak lebih sebilah pisau. Hilang dari dapur pun, engkau tetap menuduhku melukaimu.

#akan tiba, malam: bulan sepucat mayat, dan selembar puisi, menjelma kuburan lain, bagi tubuh yang menaggung duka.

#Bagiku, keindahan belum cukup untuk lahirnya sebuah puisi. Sebab kita belum cukup tenggelam dalam sepi.

#kamu adalah kebahagiaan sederhana, manisku. seperti nyanyi kecil burung-burung alit di pagi hari, begitu hidup

#Tuhan memberimu kecantikan. Tapi kamu lebih suka merias bayangan.

#Kapanpun kelak, aku tak hendak menjadi jejak tak terlacak. Selalu ada untukmu, bukan sebagai yang tak nampak.

#pagi menuliskan namamu di dadaku dengan cantik; sebagai setangkai lily, untuk kumekarkan di selembar kertas putih.

#Bulan termenung di ranting ketapang, lautan sepi. Jika subuh kembali datang, ingatkan aku, pada hening napas, ketika berdoa.

#Dingin di luar jendela itu menelusupkan sepi yang lain. Lebih nyeri dari ketiadaanmu.

#wajahmu menenangkan, melebihi apapun yang pernah kusebut: menyenangkan

#Tirulah nelayan yang menebar jala, dan tak menangkap apaapa, namun ia tak pernah membenci lautnya.

#Jatuh cintalah kepadaku, seperti seekor burung terbang, yang tak membutuhkan apaapa. Selain jalan pulang ke sarang

#aku ingin terpejam, hingga mimpi-mimpiku lengang, seperti langit selepas hujan 

#Kutulis sajak cinta untukmu, sebagai segala yg kaucintai; harapan, mimpi-mimpi, dengan langit yg tak hanya menyediakan pagi

#Kutulis sajak cinta untukmu, sebagai mata jendela. akan ada yang menyambut hangat pagimu, kala kali pertama kaubuka mata.


# Kutulis sajak cinta untukmu, sebagai api yang bersaksi kepada kayu; aku tak mau padam, sebelum kesedihanmu, jadi abu. 


#Kau hanya perlu tidur, memimpikanku dlm perjalanan sunyimu; sebelum stasiun terakhir menjemput dengan kebahagiaan baru 


# Beri saja aku sebuah senyuman, agar untuk terakhir kalinya; tak ada lagi yang perlu aku khawatirkan dan cemaskan. 


#Jika kita disatukan entah oleh cinta atau luka, untuk menabahkan apapun kelak, kita akan saling meminjam pundak.


# Hanya ada kenangan kini, semua terus berputar serupa waktu. Mengabaikan yang sakit, melompati rasa sakit  


#Dan kamulah cinta, kusebut sebagai waktu; gerak jarum pada jam yg berdetik, pada angka, bahkan pada yg tak bernama 

#cium aku, dan temukan, kau yang telah menjadi semesta, dalam jiwaku

Kamis, 10 Mei 2012

Laporan kasus Cruris


BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Sejarah penemuan sinar-X oleh Wilhem Conrad Rontgen, seorang ahli fisika berkebangsaan jerman melalui percobaannya pada tanggal 8 November 1995, telah memberikan perkembangan bagi ilmu pengetahuan dan teknologi termasuk dalam dunia kedokteran. Prinsip dari radiodiagnostik yaiyu sinar-X yang mengenai suatu objek akan menghasilkan gambaran radiograf yang dapat membantu menegakkan diagnosa adanya suatu kelainan

Minggu, 22 April 2012

Coloon in loop colitis


BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

           Perkembangan ilmu di bidang kesehatan pada masa sekarang ini semakin meningkat. Pada cabang ilmu kedokteran mengalami kemajuan yang sangat pesat diantaranya adalah dibidang radiodiagnostik yang perkembangannya diawali dengan ditemukannya sinar-X oleh seorang ahli fisika berkebangsaan Jerman yang bernama Prof. Dr. Wilhelm Conrad Rontgen pada tanggal 8 November 1895.
Dengan berjalannya waktu, pemeriksaan radiologi colon juga mengalami perkembangan yang pesat. Pemeriksaan dengan menggunakan media kontras ganda, sebagaimana halnya pada saluran pencernaan khususnya pada colon, ternyata mampu menampilkan mukosa colon secara rinci. Salah satu pemeriksaan radiodiagnostik yang sering dilakukan untuk mendiagnosa adanya kelainan atau penyakit pada penderita yang mengalami gangguan pencernaan pada usus besar (colon) dikenal dengan pemeriksaan Colon In Loop. Pemeriksaan Colon In Loop adalah pemeriksaan secara radiologis sistim pencernaan dengan memasukkan bahan kontras kedalam usus besar (Colon), Media kontras yang biasa digunakan adalah larutan barium dengan konsentrasi untuk metode kontras ganda lebih tinggi dibandingkan dengan metode kontras tunggal, untuk metode kontras tunggal menggunakan barium sulfat dengan konsentrasi 12-25 % Weigh/Volume, sedangkan metode kontras ganda dengan konsentrasi 75-95 % Weigh/Volume. Proyeksi yang biasa digunakan dalam pemeriksaan colon in loop adalah proyeksi AP, PA, Obliq AP/PA, AP Aksial, PA Aksial.
Colon atau usus besar merupakan salah satu organ penting yang terdapat dalam rongga abdomen yang berfungsi menyerap air dari makanan, tempat tinggal bakteri koli dan tempat feses. Usus besar juga terdiri dari beberapa bagian yaitu caecum, colon asenden, appendiks (usus buntu), colon transversum, colon descendens, colon sigmoid, rectum dan anus.
Kelainan-kelainan yang biasa terjadi pada colon ini adalah carsinoma (keganasan), divertikel, megacolon, obstruksi atau illeus, stenosis, volvulus, atresia  dan colitis yang diangkat penulis dalam penulisan laporan kasus ini. 
colitis merupakan penyakit yang etiologinya belum diketahui, ditandai oleh peradangan dan ulcerasi colon. Penyakit ini selalu melibatkan rectum, bila lebih luas ia meluas secara kontinu mengelilingi colon, kadang-kadang mengenai seluruh colon.

Selasa, 13 Maret 2012

BODY SECTION RADIOGRAPHY




 1. pengertian
Body Section Radiography (Radiografi Irisan Tubuh) merupakan teknik radiografi khusus menggunakan sinar-X untuk memperlihatkan struktur tubuh yang diperiksa secara lebih jelas dengan mengaburkan bayangan dari struktur yang berada di bawah dan di atas obyek yang akan diperiksa. Body section radiography bukan metode untuk meningkatkan ketajaman dari semua gambaran radiograf. Pada tahun 1962, International Commission on Radiologic Unit and Measurement memberikan istilah tomografi untuk menggambarkan semua tipe dari teknik-teknik body section. Istiah lain yang umum digunakan adalah:
1.      Planigrafi (Zienies des Plantes, Bartelink)
2.      Stratigrafi (Vallebona)
3.      Laminografi
Beberapa hal yang penting dalam tomografi antara lain

Sabtu, 10 Maret 2012

Computed Radiography ( CR )


Computed Radiography ( CR )




1.    PENGERTIAN

            Computed radiography adalah proses merubah system analog pada konvensional radiografi menjadi digital radiografi ( Bambang Supriyono 2003:1). Pada sistem Computed Radiography data analog dikonversi ke dalam data digital pada saat tahap pembangkitan energi yang terperangkap di dalam Imaging Plate dengan menggunaklan laser, selanjutnya data digital berupa sinyal-sinyal ditangkap oleh Photo Multiplier Tube (PMT ) kemudian cahaya tersebut digandakan dan diperkuat intensitasnya setelah itu di ubah menjadi sinyal elektrik yang akan di konversi kedalam data digital oleh Analog Digital Converter (ADC).

Pada penggunaan radiografi konvensional digunakan

ARTIKEL BAHASA INGRIS


Nama : Luthfi Muhtadi
Nim     : 09.1.035

Diabetes Mellitus
Diabetes, already a huge health problem, is increasingly rapidly. More than 1.4 million people in the UK are known to have diabetes and even more people in the UK have diabetes but don't even know it!
In Diabetes the amount of glucose (sugar) in the blood is abnormally high because the body's method of converting glucose into energy is not functioning correctly. A hormone called insulin, made by the pancreas gland, controls the amount of glucose in our blood. Insulin helps glucose enter body cells where it is used as fuel for all the body's metabolic processes

MAKALAH KELENJAR TIROID DAN PARATIROID

KELENJAR TIROID DAN PARATIROID

A.   KELENJAR TIROID
PENGERTIAN
Tiroid merupakan kelenjar kecil, dengan diameter sekitar 5 cm dan terletak di leher, tepat dibawah jakun. Kedua bagian tiroid dihubungkan oleh ismus, sehingga bentuknya menyerupai huruf H atau dasi kupu-kupu.
Dalam keadaan normal, kelenjar tiroid tidak terlihat dan hampir tidak teraba, tetapi bila membesar, dokter dapat merabanya dengan mudah dan suatu benjolan bisa tampak dibawah atau di samping jakun.Kelenjar tiroid menghasilkan hormon tiroid, yang mengendalikan kecepatan metabolisme tubuh.


Hormon tiroid mempengaruhi kecepatan metabolisme tubuh melalui 2 cara

MAKALAH TENTANG THORAX


 
A.    Anatomi dan Fungsi Thorax
Thorax merupakan rongga yang berbentuk kerucut, pada bagian bawah lebih besar dari pada bagian atas dan pada bagian belakang lebih panjang dari pada bagian depan. Rongga dada berisi paru-paru dan mediastinum. Mediastinum adalah ruang di dalam rongga dada di antara kedua paru-paru. Di dalam rongga dada terdapat beberapa sistem diantaranya yaitu sistem pernafasan dan peredaran darah. Organ pernafasan yang terletak dalam rongga dada yaitu esofagus dan paru, sedangkan pada sistem peredaran darah yaitu jantung, pembuluh darah dan saluran linfe. Pembuluh darah pada sistem peredaran darah terdiri dari arteri yang membawa darah dari jantung, vena yang membawa darah ke jantung dan kapiler yang merupakan

MAKALAH TENTANG MALPRAKTEK



1.    Pengertian
Malpratik berasal dari kata “mal” yang berarti buruk dan “Practice” suatu tindakan yang selanjutnya definisi malpraktek “adalah kelalaian dari seseorang dokter atau perawat untuk mempergunakan tingkat kepandaian dan ilmu pengetahuan dalam mengobati dan merawat pasien, yang lazim dipergunakan terhadap pasien atau orang yang terluka menurut ukuran dilingkungan yang sama”. (Valentin v. La Society de Bienfaisance Mutuelle de Los Angelos, California, 1956).
Tuduhan akan adanya Malapraktik sebenarnya bukan hanya ditujukan pada mereka yang berprofesi sebagai Tenaga Kesehatan yang salah satunya adalah Dokter, akan tetapi tuduhan Malapraktik dapat dituduhkan kepada semua kelompok Profesionalis, yaitu apakah mereka itu kelompok Wartawan, Advokat, Paranormal dan kelompok lainnya..

hubungan LET dengan RBE



A.    Hubungan antara LET dan RBE
Linear Energy Transfer (LET) adalah istilah yang menggambarkan tingkat energi yang hilang dari berbagai jenis radiasi saat radiasi tersebut melalui materi. Sedangkan istilah yang menghubungkan antara respon biologi dengan kualitas radiasi disebut Relative Biological Effectiveness (RBE). RBE adalah kemampuan radiasi dengan rentang LET berbeda untuk menghasilkan respon biologi yang spesifik

Kamis, 03 November 2011

RADIOGRAFER DARI SEJAK KELAHIRANNYA

RADIOGRAFER DARI SEJAK KELAHIRANNYA

I. SEJARAH PENDIDIKAN

Perkembangan ilmu radiology dimulai sejak ditemukannya sinar-x oleh Prof William Conrad Rontgen pada bulan November tahun 1895 dengan demikian disiplin ilmu radiologi merupakan ilmu yang relatif masih muda dibandingan dengan ilmu-ilmu lainnya khususnya ilmu kedokteran. Sedangkan di Indonesia radiology baru berkembang pada tahun 1950, dengan dibukanya bagian radiology di rumah Sakit Dr.Cipto Mangunkusumo yang pada waktu masih bernama CBZ dan di pimpin oleh Prof. Dr. Vanderplats dan Prof. Knoch radiology dari Belanda, Bersama-sama dengan beberapa dokter dari Indonesia diantaranya Prof Yohannes, Prof Siwabessy, Prof H.B.Syahrial Rasyad, dan Prof. Dr. H. Gani Ilyas yang semuanya sudah almarhum.

Jumat, 23 September 2011

dosimetri radiasi

dosimetri

Dalam menentukan potensi bahaya radiasi pada proteksi radiasi, perlu terlebih dulu dipahami mengenai besaran-besaran radiasi dan efek yang dihasilkan oleh dosis radiasi atau besaran dosimetri.

1. besaran radiasi

1a. energi, Radiasi didefinisikan sebagai pancaran atau perambatan energi melalui materi atau ruang dalam bentuk partikel atau gelombang magnetik. energi sangat mempengaruhi daya tembus radiasi terhadap materi.
satuan : Joule. untuk proteksi radiasi digunakan satuan Electron Volt (eV), dimana 1 eV = 1,6 x 10‾19 Joule.

Jumat, 12 Agustus 2011

TEKNIK PEMERIKSAAN CYSTOGRAFI



PENGERTIAN PEMERIKSAAN CYSTOGRAFI

Retrograde cystografi merupakan salah satu pemeriksaan traktus urinarius yang dikhususkan untuk memeriksa bagian vesica urinaria ( kandung kemih ) dan uretra, dengan cara memasukan suatu bahan kontras yang dimasukan melalui uretra, dengan mengunakan kateter atau langsung menggunakan spuit.

TUJUAN PEMERIKSAAN CYSTOGRAFI

Ada beberapa tujuan dilakukannya pemeriksaan Retrograde Cystografi, berikut tujuan-tujuan tersebut :
- untuk melihat anatomi dari vesica urinaria beserta dengan fungsi fisiologinya.
- Untuk melihat apakah ada kelainan fungsi dari vesica urinaria dan uretra.
- Untuk melihat adakah massa atau batu didalam vesica urinaria dan uretra.

Selasa, 02 Agustus 2011

SOP pemeriksaan OMD (oesophagus maag duodenum)

STANDART OPERATIONAL PROSEDURE (SOP)
INSTALASI RADIOLOGI
RSUP DR.......................................
---------------------------------------------------------------------------------------------------- 
No file : 0001
Tgl terbit : 29 Juli 2011
Halaman` :
Revisi :
Judul : Prosedure pemeriksaan Oesophagus Maag Duodenum (OMD)

  1. Pengertian

Yang di maksud pemeriksaan OMD ( oesophagus maag duedonum ) adalah pemeriksaan secara radiologi dari saluran pencernaan dengan media kontras barium.
  1. Indikasi:
  • Kelainan congenital.
  • Radang
  • Divertikulum
  • Varises
  • Ulkus
  • Obstruksi
  • Tumor / karsinoma
  • Corpus alineum
  1. Kontra indikasi :
  • Alergi terhadap media kontras
  • Mempunyai kelainan jantung
  • Perforasi
  • Keadaan umum pasien buruk.



  1. Tujuan

Selasa, 26 Juli 2011

Pemeriksaan Radiografi Duktulografi

1. Pengertian Duktulografi
Modalitas pencitraan sinar-x untuk mengevaluasi lumen duktus laktiferus dengan cara memasukan bahan kontras secara retrograde melalui kanula yang dipasang di papila mamae.
2. Anatomi
 
  • 15 - 20 lobus tersusun radial mengelilingi papila mamae
  • tiap lobus bermuara ke duktus laktiferus utama 


TDLU (Terminal Duktal-Lobular Unit)
Acinus
Ductule
Intralobular terminal ducts
Ekstralobular terminal ducts

Multipel TDLU ---> Lobus


 Nipple Discharge
  • Nipple discharge merupakan masalah penting bagi para wanita
  • Paling sering ec. benign intraductal papilloma
  • Carcinoma --> 10 - 15 %
Nipple Discharge fisiologis
  • Neonatal period
  • Laktasi
  • Kehamilan
  • Post Laktasi
  • Post stimulasi mekanis
  • Hyperprolactinaemia 
3. Indikasi
  • Evaluasi pada wanita yang mengalami nipple discharge spontan cairan dari papila mamae baik bloody maupun serous discharge  terutama bila unilateral dan berasal dari 1 orificium
  • Mappung untuk dokter bedah tumor dalam melakukan tindakan selanjutnya
  • Menemukan lesi yang tidak terlihat pada pemeriksaan Mammografi, USG dan MRI

4. Kontraindikasi 
  • Bilateral
  • Multipel ducts
  • Warna menyerupai darah
5. Keterbatasan 
     duktulografi tidak dapat dilakukan apabila tidak ada discharge pada saat pemeriksaan akan dikerjakan

6. Teknik Pemeriksaan
  • Amati lokasi orificium dimana nipple discharge berasal
  • Nipple areolar complex dibersihkan dengan larutan antiseptik
  • Mamae di beri duk steril
  • Sedikit discharge dikeluarkan sampai orificium duktus terlihat
  • Cannula diisi water-soluble radiographic contrast
  • Usahakan mengeluarkan udara dari kateter
  • Canula dipasang dengan hati-hati supaya tidak masuk ke dinding duktus laktiferus dan menimbulkan ekstravasasi
  • Kontras sebanyak 0.1 - 3 cc di injeksikan, tergantung pada jumlah secondary ducts yang mengalir ke duktus laktiferus utama dan lebarnya dilatasi
7. Gambaran Radiologi
A. gambaran normal
 a. Dikotomi lumen duktus laktiferus yang terisi kontras terlihat baik
 b. Tidak tampak filling defect
 c. Dinding lumen reguler
 d. Tidak terlihat beading appearance, angulasi, atau pengecilan kaliber lumen dengan tiba- tiba






B. gambaran kesalahan teknik

A
  
                     (b)                                                                        
Keterangan :
a : Refluks
b : Ekstravasasi
c : Air bubble
8. Patologis 
    Sebagian besar kelainan intraduktal dengan nipple discharge ditemukan 1 -  4 cm dari papilla mamae, meliputi :
  • Duct  ectasia
         a. Pelebaran duktus laktiferus dapat sampai tortuosus
         b. Dapat terlihat filling defect akibat sekret
         c. Dilatasi berbentuk kistik terutama di area subareolar yang membentuk contrast fluid level
         d. Kaliber dapat melebar sampai 8 mm di sertai dengan ebading appearance

DUCT ECTASIA

 * Wanita 40 tahun dengan serous right nipple discharge
 * Pelebaran subareolar collecting ducts dan segmental ducts
 * Dilatasi berbentuk kistik (panah)
 * Di posterior regio subareolar terlihat cabang-cabang kecil duktus
 * Tidak terlihat filling defect intralumen



 Cystic Duct Ectasia

* Spontaneous serous left nipple discharge
* Pelebaran collecting duct dan segmental ducts di area subareolar
* Pengisian kista-kista kecil oleh kontras membentuk fluid level
* Tidak terlihat filling defect intralumen



  • Duct  papilloma








Filling defect berlobulasi didalam duktus
 (kiri) Galactography
 (kanan) USG
 a. Defect soliter biasanya disebabkan papilloma intraductal
 b. Paling sering di jumpai di dekat nipple -areolar complex
 c. Hou et al. menemukan 88 dari 113 (77.9%) lesi intraductal jinak terletak di duktus laktiferus utama
 d. Tepi papilloma biasanya bulat atau berlobulasi
 e. Bila ukurannya besar dapat mengobstruksi duktus laktiferus
 f. Papillomatosis ---> filling defect kecil multipel membentuk gambaran iregularitas dinding lumen duktus










  • Breast Cancer
* Terlihat pelebaran duktus di area subareolar* Multipel area dengan penyempitan kaliber (A) serta filling defect ireguler (panah B)* Terhentinya kontras tiba-tiba mengisi lumen duktus



Reaksi: 

Minggu, 24 Juli 2011

teknik radiografi Benda Asing dalam Mata

Oleh : Dian Martiningrum


Pendahuluan

Pemeriksaan Pendahuluan pada kasus Corpus Alienum di mata meliputi 2 (dua) hal, yaitu:
  1. Memastikan keberadaan Benda Asing di mata
  2. Menentukan letak benda asing di mata dengan tepat
Ketentuan-ketentuan  Pemeriksaan Benda Asing di Mata:
  1. Kepala harus di-immobilisasi dengan head clamp, pada saat proyeksi yang diperlukan dibuat.
  2. IS (intensifying screen) yang digunakan harus benar-benar bersih dari minyak dan kotoran, untuk mencegah terjadinya bayangan yang dapat mengacaukan diagnosa. Film yang digunakan sebaiknya mempunyai speed rendah (fine grain) atau film khusus untuk teknik soft tissue. FFD yang digunakan 100 cm, dan menggunakan fine focus.
  3. Pada kaset yang dipakai untuk pemeriksaan dipasang kawat untuk memetakan letak benda asing, kawat yang dipasang berbentuk silang (cross) dengan titik tengah setinggi pupil (pada saat mata melihat lurus ke depan). Kawat dapat dipasang di atas kaset atau pada pasien (tergantung teknik yang digunakan).
  4. Dilakukan 2 proyeksi pada 1 kaset (side by side).
Untuk tujuan lokalisir benda asing di mata, mata dianggap sebagai benda bulat yang mempunyai diameter maksimum 24 mm.

Memastikan keberadaan benda asing di mata
Dibuat 2 proyeksi lateral (metode Parallax)
            1 proyeksi dengan mata melihat ke atas sejauh mungkin
            1 proyeksi dengan mata melihat ke bawah sejauh mungkin
Bila benda asing berada di bagian anterior bola mata, maka dibuat dengan film dental (metode Vogt-Bone Free).
Mata membuka selebar-lebarnya pada saat dilakukan eksposi.

Memastikan Letak Benda Asing dalam Mata
Ada 2 (dua) cara :
  1. Menentukan letak relatif benda asing terhadap bidang tangensial pusat mata. Pada pemeriksaan ini tidak dipakai alat bantu khusus.
  2. Menentukan kedalaman letak benda asing terhadap bidang tangensial margin anterior cornea mata. Metode yang dipakai :
    1. Metode Point and Cross Localizer
    2. Metode Kacamata (Spectacles Methode)
    3. Metode Cincin Limbal (Limbal Ring Methode)
Metode tambahan yang lain (Ballinger, 1991)
  1. Metode Sweet
  2. Metode Pfeiffer-Comberg
Menentukan Letak Relatif Benda Asing terhadap Bidang Tangensial Pusat Mata
Gambar 2376
Bila benda asing terletak di anterior bidang tangensial pusat mata (eye centre), maka benda asing akan mengikuti pergerakan

TEKNIK PENYINARAN Ca MAMMAE


 pengertian ;
Tumor ganas payudara  merupakan masalah kesehatan di Indonesia dengan frekuensi terbanyak kedua setelah tumor ganas  leher rahim. Kanker payudara merupakan tumor yang relatif lambat pertumbuhannya. Namun pada beberapa pasien dijumpai  bentuk yang agresif tapi terlambat dideteksi. 
Kanker payudara merupakan neoplasma ganas dimana terjadi  pertumbuhan jaringan payudara abnormal yang tidak memandang jaringan sekitarnya tumbuh infiltratif dan destruktif serta dapat bermetastase. Pada stadium awal tidak ada keluhan sama sekali hanya seperti fibroadenoma atau  penyakit fibrokistik yang kecil saja. Bentuk tidak teratur, batas tidak tegas, permukaan tidak rata, konsistensi padat keras. Pada stadium yang lebih lanjut  dapat menimbulkan kelainan pada kulit berupa infiltrasi, retraksi puting susu, seperti kulit jeruk (peau d’orange), benjolan-benjolan dikulit (satelit nodule)  sampai dapat dijumpai ulserasi. Karsinoma duktus invasif merupakan group terbesar tumor ganas payudara  lebih  kurang  65%-80% dari karsinoma payudara.

Tujuannya dari teknik penyinaran ini adalah mematikan sel kanker yang mungkin masih ada / tertinggal disekitar area tumor yang sudah dioperasi,

Senin, 18 Juli 2011

High kV Technique

oleh : H Nur utama 

1. Latar Belakang
Variasi kv pada teknik permeriksaan adalah salah satu yang biasa digunakan  untuk  proyeksi tertentu tergantung pada ukuran ketebalan badan. Dan pemberian nilai milliampere-second juga disesuaikan untuk masing-masing badan yang diperiksa.
Sistem teknik yang menggunakan variasi kilo-voltage memiliki keuntungan yang menjanjikan dalam variasi ekspose pada ketebalan badan yang berbeda-beda. Kenaikan kilovoltage yang terus meningkat dapat mengurangi kontras pada radiografi. Penurunan nilai  kontras dapat terjadi jika KiloVoltage awal terlalu rendah menyediakan penetrasi yang cukup dari organ itu. Suatu penurunan kontras diperbolehkan ketika kilovoltage terlalu tinggi dapat mengurangi kemampuan radiolog untuk melihat detil yang bagus di gambaran organ. Pemanfaatan sistem variasi kilovoltage harus mampu dalam penetrasi/daya tembus yang cukup dari bagian organ tersebut dan hasil tingkatan nilai kontras itu bisa diterima oleh radiolog.
Ada tiga faktor yang mempengaruhi nilai dari kontras. Faktor yang utama adalah untuk mengontrolan kontras yang bergantung pada kVp/mAs. Faktor yang kedua, tidak kalah penting adalah kendali dari pancaran radiasi untuk menghindari produksi radiasi dalam jumlah yang berlebihan dalam  mengaburkan gambaran. Faktor yang lain yang mempengaruhi skala dari kontras adalah penggunaan dari IS.
Sehingga pada pertemuan kali ini, kami memaparkan atau menjelaskan tentang pemanfaat penggunaan variasi kv yang berbeda.

2. Tujuan


Dilakukan nya pemeriksaan dengan beberapa faktor eksposi yang berbeda khususnya dari kV (Kilo-voltage) ini bertujuan untuk mengetahui seberapa pentingnya pengaruh faktor eksposi khusus nya kV terhadap gambaran radiografi.

Jumat, 15 Juli 2011

CT SCAN COLON ( CT – COLONOSCOPY )

Adalah Pemeriksaan terhadap usus besar dengan menggunakan alat CT-Scan.

CT-Scan colon dapat dilakukan dengan 2 cara, antara lain :
1. Dengan memasukkan kontras media positif.
2. Dengan memasukkan kontras media negative.

Tujuan pemeriksaan : untuk melihat kelainan-kelainan pada daerah usus besar.

Indikasi Pemeriksaan :
1. Colitis
2. Polip
3. Tumor
4. Invaginasi
5. Hemoroid

Kontra indikasi :
1. Perforasi
2. Keadaan umum pasien jelek
3. Diare


Persiapan Pasien :
1. Dua hari sebelum pemeriksaan, pasien dianjurkan makanan lunak / bubur kecap dan disarankan banyak minum air
2. Jika kita lakukan pagi maka makan bubur kecap yg terakhir jam 19.00 wib. Dan jika pemeriksaan dilakukan siang, makan terakhir jam 07.00 wib.
3. Jika kita lakukan pemeriksaan pagi, maka pasien minum garam inggris 1 bks dicmpur dgn air 1 gelas jam20.00 wib. Utk pemeriksaan siang maka minum garam inggris dicampur air 1 gelas jam 07.00 wib.
4. Jika dilakukan pemeriksaan pagi maka mulai puasa jam24.00 wib dan jika dilakukan siang, puasa jam07.00, pasien dianjurkan tdk merokok dan tdk boleh bnyak bicara.
5. Besok pagi / siang pasien dtg ke radiologi dlm keadaan puasa.
6. Sebaiknya sebelum pemeriksaan pasien dilakukan klisma.

Persiapan Alat dan Bahan :
1. Cateter
2. Gunting klem
3. Spuit 20cc
4. Jelly
5. Spuit cateter
6. Handscone
7. Bahan Kontras dan gelas



Persiapan pasien :
1. Petugas radiologi menjelaskan tentang yg akan diperiksa ke pasien.
2. Petugas radiologi meminta ke pasien mengganti pakaian dgn pakaian yg telah disiapkan / baju pasien.
3. Pasien diminta naik ke atas meja pemeriksaan.

Prosedur pemeriksaan , cara 1 :
1. Masukkan data pasien kedalam computer CT-Scan ( nama,umur,jenis kelamin dan klinis pasien ).
2. Minta pasien agar menggantikan baju dgn yg sudah kita persiapkan.
3. Ambil cateter dan beri jelly diujung cateter tersebut.
4. Kita beritahukan kepasien cateter akan dipasang melalui anus.
5. Pasien dimiringkan.
6. Cateter dimasukkan ke anus pasien dan buat balon agar cateter tersebut tidak lepas dan cateter di klem.
7. Setelah dipasang, pasien diminta tiduran biasa ( AP Supine ).
8. Ambil spuit cateter 50cc dan kita isi udara lalu dimasukkan melalui cateter dgn melepas klem yg telah terpasang tadi.
9. Lalu klem kembali cateternya dan kita ambil spuit cateter yg berisi udara dan dimasukkan kembali melalui cateter.
10. Lakukan terus sampai pasien merasa perutnya sakit sekali.
11. Lakukan CT-Scan dgn program CT-Scan whole abdomen.
12. Setelah selesai , kita melepaskan cateter yg terpasang dan meminta pasien utk ganti baju.
13. Pemeriksaan selesai.
14. Setelah itu kita mengolah gambar di program work station CT-Scan dgn membuka aplikasi CT-Colonoscopy.
15. Kita ambil gambar dan lakukan print pada film,kertas dan disimpan ke dalam CD Room.

Prosedur pemeriksaan, cara 2 :
1. Masukkan data pasien kedalam computer CT-Scan ( nama,umur,jenis kelamin dan klinis pasien ).
2. Minta pasien agar menggantikan baju dgn yg sudah kita persiapkan.
3. Kita siapkan kontras media dan dicampur dengan air.
4. Ambil cateter dan beri jelly diujung cateter tersebut.
5. Beritahu pasien bahwa cateter akan dipasang melalui anus pasien.
6. Pasien dimiringkan.
7. Cateter dimasukkan ke anus pasien dan kita buat balon agar kateter tersebut tdk lepas dan cateter di klem.
8. Setelah dipasang cateter, pasien diposisikan AP Supine.
9. Ambil spuit cateter 50cc dan kita isi dgn kontras lalu dimasukkan melalui cateter dgn melepas klem yg telah dipasang.

10. Lalu klem kembali cateter dan ambil spuit cateter yg berisi udara dan dimasukkan kembali melalui cateter.
11. Lakukan terus sampai kontars media habis.
12. Lakukan CT-Scan dgn program CT-Scan whole abdomen.
13. Setelah selesai CT-Scan, lepaskan cateter yg terpasang dan meminta pasien utk mengganti baju.
14. Pemeriksaan selesai.
15. Gambar diolah di program work station CT-Scan dgn membuka aplikasi 3D.
16. Kita ambil gambar dan lakukan print pada film,kertas dan disimpan ke dalam CD Room.

Minggu, 03 Juli 2011

Teknik Radiografi HSG (Histerosalpingografi)

OLeh : Luthfie Muhtadi
 
Pengertian 
 
Histerosalpingografi (HSG) merupakan suatu untuk pemeriksaan dasar untuk mengetahui anatomi dan fisiologi alat genital wanita, melihat bayangan rongga rahim dan bentuk tuba fallopi. Biasanya dilakukan untuk mengetahui penyebab terjadinya infertilitas .

Anatomi dan Fisiologi

Uterus :

Terdapat dalam rongga panggul, bentuknya seperti buah peer, panjang 6,5 cm – 6 cm dan tebal 2,5 cm – 4 cm. Uterus terletak di belakang kandung kencing dan di depan rectum. Uterus terdiri dari fundus uteri yang merupakan bagian terbesar, dan ismus uteri yang menghubungkan korpus dan serviks. Kanalis servikalis berbentuk spindle, panjangnya 2 cm – 3 cm. Biasanya pada nullipara ostium uteri eksterna terbuka hanya 0,5 cm. Beberapa posisi uterus ,antara lain: Antefleksi, rofleksi, teversi, dan retroversi .
Rahim retrofleksi merupakan salah satu bentuk anatomi yang normal, dimana rahim melengkung ke belakang ke arah punggung, sementara rahim biasanya (antefleksi) tegak ke atas atau melengkung ke depan. Kondisi ini terdapat pada 20% wanita.



Saluran telur (tuba uterina):

Merupakan saluran membranosa yang mempunyai panjang kira-kira 10 – 12 cm. Terdiri dari 4 bagian yaitu:
a.       Pars interstisialis, yaitu bagian yang menempel pada dinding uterus .
b.      Pars ismika, merupakan bagian medial yang menyempit seluruhnya .
c.       Pars ampularis, bagian yang berbentuk saluran agak lebar .
d.      Infundibulum, bagian ujung tuba yang terbuka kearah abdomen dan mempunyai fimbria.

Ovarium:

Terletak dalam fosa ovarika, terdapat dua buah di kanan dan kiri dengan mesovarium menggantung di bagian belakang ligamentum latum. Ukuran normal ovarium, panjang 2,5 – 5 cm, lebar 1,5 – 3 cm dan tebal 0,6 – 1,5 cm.

           Baca Selengkapnya ( Klik READ MORE )
Patologi

  1. Infertilitas  : Gambaran tuba fallopi dan salurannya sampai ke cavum peritoneum.
  2. Abortus berulang Gambaran mengenai kelainan bawaan pada kavum uteri.
  3. Hydrosalphinx Tuba yang melebar, berisi cairan dan non paten
  4. Neoplasma  Terdapat tumor dan metastase pada dinding uterus
  5. Salfingitis  :  Peradangan pada daerah mulut rahim

Teknik Pemeriksaan HSG

Waktu Pemeriksaan :

Waktu yang optimum untuk melakukan HSG ialah pada hari ke 9 -10 sesudah haid muIai. Pada saat itu biasanya haid sudah berhenti dan selaput lendir uterus sifatnya tenang. Bilamana masih ada pendarahan, dengan sendirinya HSG tak boleh dilakukan karena ada kemungkinan masuknya kontras ke dalam pembuluh darah balik.

TEKNIK PEMASUKAN BAHAN KONTRAS MEDIA :

1.      Membuat foto pendahuluan atau foto polos dari pelvis dan instruksikan pasien untuk mixie .
2.      Pasien tiduran dengan posisi kaki mengangkang atau litotomi (ginekologi).
3.   Bagian eksterna / vaginanya dibersihkan dengan betadine lalu di pasangkan speculum yaitu alat untuk melebarkan vagina, yang bentuknya seperti cocor bebek .
4.    Setelah dipasang speculum, lanjutkan untuk mencari lubang dari uterus yang disebut ostium cervical externum / portio .
5.      Kemudian masukkan sonde untuk mengukur seberapa besar ruangan uteri .
6.      Masukkan alat “Salphinogram” yang dihubungkan dengan spuit berisi bahan kontras .
7.      Kemudian masukkan bahan kontras dan akan mengisi cavum uteri dan tuba uterina .



PROYEKSI PEMERIKSAAN HSG SET

1.                  AP Plain (Uterine cavity)

Posisi Pasien    : Supine
Posisi Objek    :
·   MSP pada pertengahan kaset
·   Tangan berada di samping tubuh
·   Tidak ada rotasi pada pelvis
Central Ray     : Vertikal/tegak lurus terhadapa kaset
Central Point   : 5 cm proximal simpisis pubis
FFD                 : 100 cm
Eksposi            : Pada saat pasien tahan nafas 



2.                  AP Post Kontras : 5 cc



3.                  AP Oblique (RPO dan LPO) Post Kontras : 3-5 cc
            RPO

           LPO



4.                  AP Post Miksi/Post Void

            PV (Post Void)



Struktur gambaran yang tampak :
  • Daerah 5 cm di atas simphisis pubis harus berada pada pertengahan kaset
  • Semua media kontras harus termasuk juga beberapa daerah “spill”
  • Gambar radiograf harus menunjukkan sedikit skala kontras

KRITERIA RADIOGRAFI PEMERIKSAAN HSG SET :

  1. Bentuk dari uterus yang normal berbentuk segitiga, bagian dasarnya pada fundus dan apex pada sisi inferior, berhubungan dengan canalis cervikalis.
  2. Tidak ada gambaran kelainan seperti tumor, polip, atau bentuk abnormal dari uterus.
  3. Tuba fallopi terletak di kanan kiri uterus. Terbagi atas empat daerah yaitu: interstitial, isthmus, ampulla dan infundibulum. Daerah yang terlihat jelas dengan kontras adalah isthmus yang panjang dan lurus serta ampulla yang seperti huruf “s” dan tampak melebar. Tuba fallopi tidak tersumbat, sehingga media kontras dapat mengisi tuba hingga tumpah ke rongga peritoneal (tampak spil) . 
  4. Terdapat gambaran spekulum maupun partubator di rongga uterus pada metode pemasukan media kontras dengan metal canula .